Kamis, 02 Juli 2015

Desyimah Robiah Ulfiah

Lucunyaaa kamyuuuu
genduttnya kamyuuu
hhhuuu semua ingin mencubitmuuuu
masa masa indahmuu
masa masa polosmuuu
diantara para penghuni SYURGA,,,,hhe
pendidikanmu yg kau dapatkan dari ratusan Orang..
hohoho.....
#mafy aml kangen syimAHHHH






Pentingnya Sebuah Kebersamaan

Pentingnya Sebuah Kebersamaan

Manusia, seperti yang dijelaskan Allah swt dalam surat an-Nisa’ [4]: 28 adalah makhluk yang lemah. Bahkan, isyarat tersebut dengan jelas juga Allah sebutkan dalam salah satu ayat-Nya dari wahyu pertama yang diturunkan, surat al-‘Alaq [96]: 2, yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari ‘Alaq. ‘Alaq secara harfiyah artinya sesuatu yang menggantung. Hal itu mengisyaratkan bahwa semenjak awal penciptaannya, manusia adalah makhluk yang memiliki ketergantungan kepada pihak lain disebabkan kelemahan manusia itu sendiri. Oleh karena itulah, manusia dalam kehidupannya memiliki kecendrungan untuk hidup secara bersama dan berkelompok.
Dalam al-Qur’an maupun hadits Nabi saw, banyak ditemukan perintah untuk membangun kebersamaan itu. Seperti dalam surat Ali ‘Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا....
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu kepada tali agama Allah secara bersama dan janganlah kamu semua bercerai berai…”
Begitu juga dalam hadits Rasulullah saw, misalnya “Bersama itu adalah rahmat, dan berpecah itu adalah laknat”. Bahkan, kebersamaan itu bukan hanya perlu dalam kehidupan bermasyarakat, namun juga diperlukan dalam beribadah. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda “Shalat berjama’ah lebih baik dari shalat sendiri dengan perbedaan 27 derajat”. Oleh karena itu, dalam setiap shalat kita selalu membaca;
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta tolong.”
Ungkapan “kami” pada kata na’budu wa nasta’în pada ayat tersebut tidak boleh dirobah dengan kata “saya” (a’budu wa asta’în), ketika shalat dilakukan sendiri. Ungkapan “kami” selalu dibaca, baik ketika shalatnya berjama’ah maupun shalat sendiri. Hal itu memberikan sebuah isyarat betapa pentingnya sebuah kebersamaan.

Di antara keuntungan bersama dalam ibadah dan mohon pertolongan adalah, bahwa ibadah yang dilakukan secara bersama akan dapat menutupi kekurangan ibadah yang lain yang kurang sempurna. Ibarat membeli buah, jika yang dibeli satu buah, tentulah sang pembeli akan memeriksanya secermat mungkin, sehingga jika ditemukan sedikit saja cacat mungkin transaksi akan

 diba






talkan 

atau diganti yang lain. Akan tetapi, jika sang pembeli membelinya satu karung atau satu truk, tentu saja dia tidak akan menelitinya satu persatu, karena kalaupun nanti ditemukan ada satu, dua, atau lebih yang cacat, maka akan tertutupi oleh yang bagus dengan jumlahnya yang lebih banyak . Begitu juga ibadah yang dilakukan secara bersama, Allah swt akan menerimanya secara kolektif, dan kekurangan dari satu atau dua orang bisa disempurnakan dengan kesempurnaan ibadah yang lainnya. Bukan bermaksud mengatakan Allah kurang teliti dalam hal ini, tetapi begitulah keuntungan berjama’ah dalam ibadah.

Begitu juga pertolongan yang diminta secara bersama, akan lebih didengarkan dan dikabulkan oleh tempat meminta daripada meminta pertolongan secara sendiri-sendiri. Sama halnya dengan ketika seseorang pergi ke kantor DPR sendiri, lalu berteriak mengajukan keinginannya. Tentulah keingian tersebut tidak akan didengarkan orang atau mungkin sekali dia akan ditangkap, karena dianggap mengganggu kenyamanan atau dikira sebagai orang gila. Namun, jika keinginan itu disampaikan secara bersama atau dalam bentuk demonstrasi, tentulah akan didengarkan dan kabulkan. Begitu juga halnya, dengan permohonan kepada Allah swt, bukan berarti Allah takut kepada banyaknya jumlah manusia, akan tetapi begitulah keuntungannya sebuah kebersamaan.


Namun demikian, dari ayat di atas kita juga harus memahami bahwa permohonan diajukan setelah terlebih dahulu melakukan perintah tempat mengajukan permohonan (ibadah). Artinya, bahwa tuntutan dikemukan setelah terlebih dahulu memenuhi kewajiban yang sudah ditentukan. Oleh karena itu, idealnya dalam kehidupan ini, adalah mendahulukan pelaksanaan kewajiban dari pada menuntut hak, dan jangan sebaliknya. Sebab, jika kewajiban sudah dipenuhi secara sempurna, maka hak dengan sendirinya akan diterima.


CARA HIDUP DI PESANTREN
hei all,aku mau bagi2 tips nih tentang cara hidup kita di pesantren banyak temen aku bilang"hari gini di pesantren!!!!!"kita harus bersyukur loh bisa tinggal di pesantren,eeeem ga gampang si yah tinggal di pesantren harus punya mental hidup madiri kalo mentalnya anak mami yaaa mana bissa,,,,,,
ada tips nih buat kamu yang tinggal di pesantren
kamu harus niat lilahitaala buat tinggal dipesantren
kalo kamu karna di paksa ma mamah papah,kamu bercoba berpkir positif,mebandingkan bagaimana perbedaan dunia luar dengan dunia pesantren yang religius,so kamu terlindungi dari hal2 yang aneh yang ada di luar sana.
bisa jaga diri,jangan pasang sikap anak mamih
bisa mengurus diri dari mulai pakain,jangan pernah untuk berpikiran buat keloundri,karena#gak kerasa susahnya kita hidup di pesantren#buktiin kalau kita itu anak yang kuat,ya kecuali kita sibuk dengan hal lain kali2 buat kloundry boleh lah.
jangan boros,ingat di pesantren kita menuntut lmu dan bukan untk bermewah mewahan
biasakan berpakain rapi dan menutup aurat,
jangan pernah ada konflik dengan teman sekamar kita,karna itu yang membuat kita gak betah pula di pesantrenjangan coba2 melanggar peraturan pesantrenikuti apa kata guru selama itu masih kamu anggap baikhormati guru dan anggap dia orang tua kita apalagi pemlik pesantrenbukan pesantren kalo ga ada kata NGANTRI,mandi ngantri,makan ngantri,ingat kawan jadikan hal itu untuk melatih kesabaran kita.apa bila kita bosan mempelajari suatu pelajaran,cobalah ganti dengan pelajaran lain,apabila semakin bosan,ganti dengan nadoman(belajar dengan cara di nyanyikanINGAT kawan jangan pernah berpikir dengan kita tinggal di pesantren,berarti orang tua kita telah mencoba membuang kita,,banyak teman ku yang berpikitr seerti itu,kurasa itu pikiran yang salah,malah orang tua kita mengirim kita pesatren itu agar kita bisa mengaji,bisa mngerti dengan agama,bisa terhindar dari hal2 yang di larang oleh ALLAH SWT,dan bisa terhindar dengan hal2 aneh yang ada di luar sana,ok berpikirlah positif pada orang tua kita.jangan banyak tidur,jangan banyak membicarakan orang lain,boleh punya pacar asal jangan pacaran"bukan muhrim",,,,,,OKjangan memilih milih teman,ingat kita tinggal satu atap,satu perjuanganjangan coba2 mencuri barang temanjagan coba2 memangai barang teman tanpa ijinmungkin kawan itu yang dapat aku tulis sekarang aku menulis ini sesuai dengan pengalaman ku di pesantren,pesantren itu indah kadang sering orang bilang itu adalah penjara suci,,,tapi ngat penjara yang penuh ilmu dengan aturan2 yang bisa mencegah kita dari hal hal yang buruk dan semakin mendekatkan kita kepada ALLAH SWT.

ramadhannnnnnn

merupakan sebuah aturan kewajiban bagi umat agama Islam. Pada bulan tersebut mereka melakukan puasa sebagai bentuk ketaatan pada sang Pencipta. Ibadah puasa tersebut dilakukan sebulan penuh di mulai pada tanggal satu ramadhan setelah melihat hilal sebagai patokan tanggal. Pada prakteknya umat muslim melakukan puasa dari mulai terbit matahari sampai terbenam matahari.
Puasa Ramadhan sebagaimana Rasulullah jelaskan dapat mengangkat derajat pelakunya menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, akhlaq mulia dan perilaku yang indah ditengah-tengah masyarakat. “Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan aib. dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah, ‘Aku berpuasa'”. (HR. Bukhori).
Petunjuk puasa dari Nabi Saw adalah petunjuk yang paling benar dan sempurna untuk diikuti. Serta petunjuk Nabi Saw paling mengena dalam mencapai maksud dan tujuan, serta paling mudah penerapannya bagi umat Islam. Di antara petunjuk puasa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan diantaranya adalah memperbanyak melakukan berbagai macam ibadah. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwasannya malaikat Jibril’alaihis salam senantiasa membacakan Al-Qur’anul Karim untuk beliau pada bulan Ramadhan. Selain itu, Nabi Saw pada bulan Ramadhan juga memperbanyak sedekah, kebajikan,shalat, dzikir, i’tikaf dan bahkan beliau mengkhususkan beberapa macam ibadah pada bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan lain.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berpuasa dan mendapatkan matahari sudah tenggelam, maka Nabi Saw menyegerakan berbuka dan menganjurkan demikian pada umatnya. Nabi Saw menghimbau agar berbuka dengan kurma. Bila tidak mendapatkannya, Nabi Saw mencukupkan diri dengan air saja. Adapun ketika sahur Nabi Saw makan sahur maka mengakhirkannya. Hal demikian dianjurkan pula untuk umatnya. Nabi’shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang yang berpuasa dari ucapan keji dan caci-maki. Sebaliknya beliau memerintahkan agar ia mengatakan kepada orang yang mencacinya, “Sesungguhnya aku sedang puasa.”
Jika Nabi Saw melakukan perjalanan di bulan Ramadhan, maka  terkadang beliau meneruskan puasanya, namun terkadang pula berbuka. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi para sahabat, membiarkan mereka memilih antara berbuka atau puasa ketika dalam perjalanan. Selanjutnya yang merupakan petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membebaskan dari qadha’ puasa bagi orang yang makan atau minum karena lupa, dan bahwasanya hal demikian karena Allahlah yang memberinya makan dan minum.

Dibalik Shalat Malam: The Power of Shalat Tahajud

Dibalik Shalat Malam: The Power of Shalat Tahajud: Shalat Tahajjud sangat besar manfaatnya. Selain manfaat di akhirat, sholat tahajud juga sangat bermanfaat di dunia. Adapun manfaat sha...

DARUSSALAM TASIKMALAYAKUUU,..PEMBUKAAN .UJIAN TEMPO DOELOE




mau donk jadi Hafidzoh

Di sini ada sebuah kisah perjuangan beberapa mahasiswa dalam menghafal Qur’an di sela-sela waktu kuliahnya. Selamat membaca, semoga terinspirasi…
= = = = =
Di sebuah kota besar di Indonesia, yang kehidupan metropolitan masih dapat dirasakan, di satu sisi kadangkala ditemukan hal hal yang sangat bersifat religius.
Di sana Penulis sempat menemukan sekelompok pemuda yang sangat akrab dengan Al Qur’an, seakan-akan Al-Quran adalah bagian dari dirinya. Di saku baju atau di tas mereka akan selalu ditemui sebuah Al-Quran kecil. Mereka juga adalah pemuda yang sangat akrab dengan Masjid. Pada saat shubuh mereka hadir di masjid dan di waktu petang mereka telah ada kembali di masjid, di samping kehidupan mereka sebagai mahasiswa.
Yang sangat berkesan bagi penulis adalah bagaimana mereka mencuri waktu untuk dapat menghafal Al Quran atau membaca Al Quran. Ada di antaranya yang mencuri waktu di sela sela waktu stop lampu merah (ampel/traffick light sedang merah ) membuka Al Quran di sakunya untuk sekedar melihat beberapa ayat Al Quran, ketika sedang mengendarai motor.
Ada juga yang mengambil waktu luang ketika mereka sedang berada di kendaraan umum untuk menghafal Al Quran. Agar tidak diketahui ia sedang membaca Al Quran oleh orang sekitarnya, Al Quran tersebut dibungkus dengan sampul buku biasa. Seakan akan orang mengira ia sedang membaca buku. Mereka lakukan untuk menjaga keikhlasannya.
Ada juga yang membawa kaset murrotal Al Quran mendengarkan di waktu luang/free, orang lain mengira ia sedang mendengarkan musik biasa. (Mungkin disaat sekarang dapat digunakan usb MP3 yang lebih praktis)
Dan yang lebih menarik ada yang memfotokopi Al Quran pada halaman tertentu, kemudian dibawa dan agar lebih praktis dengan mudah dihafal seperti note. Subhanallah…..
Adalah sesuatu yang sulit dibayangkan jika pada masa sekarang, di mana kehidupan semakin keras dirasakan, masih ada orang yang melakukan hal demikian, menghidupkan Al Quran. Setidaknya hal tersebut memberikan inspirasi bagi kita untuk lebih akrab dengan Al Quran.
Mimpi orang orang demikian untuk menjadi seorang hafidz Quran bukanlah omong kosong. Jika mereka adalah pemuda yang berumur 20 tahun, maka perlahan tapi istiqomah, ketika ia menjadi seorang ayah berumur 40 tahun, sangat mungkin baginya menjadi seorang penghafal Al Quran. Ia akan mendidik anaknya menjadi seorang hafidz Quran juga. Andaikan mereka adalah seorang yang berumur 40 tahun maka perlahan tapi tetap istiqomah, di waktu ia menjadi seorang tua  berumur 60 tahun ,dirinya sudah siap menghadap Allah sebagai seorang hafidz Qur’an.Ia akan siap mendidik cucunya menjadi seorang Hafidz Quran.
Rasulullah bersabda bahwa pada hari akhir kelak, orang tua para penghafal Al Quran tersebut akan memperoleh penghargaan besar, yaitu akan mendapatkan sebuah mahkota cahaya.
”Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya maka akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya mahkota yang sinarnya lebih terang daripada sinar matahari di dunia pada hari kiamat nanti, kalaulah sekiranya ada bersama kalian, maka apa perkiraan kalian tentang orang yang mengamalkannya (al-Qur’an)?”(HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)
Tentu kita juga tergiur untuk memberikan Hadiah bagi orang tua kita, sebuah hadiah berupa penghargaan dari Alloh SWT. Terlebih jika orang tua kita telah pergi,untuk mengobati kerinduan kita kepadanya kelak di hari Akhir akan kita berikan berita bahagia bagi mereka bahwa anaknya adalah seorang hafidz Quran. Memang benar pendapat bahwa menghafal Al-Qur’an tidak mudah, tapi setidaknya ada yang bisa kita persembahkan kelak, sesuatu yang berat dan diperlukan kesabaran, sesuatu yang indah sebelum Menghadap kepada Nya dan mempersiapkan mahkota cahaya untuk Bapak dan Ibu kita,….Menjadi Penghafal Al Quran (Hafidz Qur’an).“Ya Allah, tuntun diri kami ke jalan yang lurus sebagaimana jalan orang orang yang Engkau beri petunjuk “
Aamiin..